**OPINI**

*Anjing siapakah yang selalu memakan remah-remah roti yang jatuh ke tanah jika bukan pemilik anjing itu?* Demikianlah analogi antara pemangku ‘jabatan politik’ dalam dunia pendidikan dan pemberi jabatan politik. Inilah yang saya istilahkan dengan ‘POLIBEK – POLitik BErbasis Kekacauan’ atau ‘Keterpurukan Sistem Politik’. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa beberapa Pejabat; Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah, lingkup Pendidikan Dasar dan Menengah sementara menikmati remah-remah roti majikannya. Bagaimana mungkin sistem pendidikan yang murni diberi ragi politik yang telah rusak jika penerima jabatan POLIBEK adalah penjilat yang handal.

Mari mengulas kembali etimologi Politik. Kita seharusnya membedakan makna frase *Politik Pendidikan*, *Pendidikan Politik*, dan *Politik dalam Pendidikan*. Kita telah mengetahui bersama bahwa kata *Politik* berasal dari bahasa Yunani *πολιτικά* – *politika* yang berarti dari dan untuk warga Negara. Akar kata dari *politika* adalah *πολίτης* – *polites *dan πόλις – *polis* yang masing-masing berarti *warga Negara* dan *bagian kota *atau *Negara kota*. Politik mengacu pada kepentingan warga Negara dengan menggunakan sistematika pencapaian tujuan bersama untuk kepentingan bersama. Pada substansinya, politik adalah hal yang baik jika diaplikasikan sesuai dengan konsepnya. Sebaliknya, politik akan menjadi rusak ketika pelaku politik (politisi) menggunakannya hanya semata-mata untuk kepentingan pribadi atau golongan. Setiap usaha yang dilakukan untuk suatu pencapaian tujuan bersama (semua warga Negara) merupakan konsep politika dan hal ini baik adanya. Sekali lagi, untuk tujuan bersama seluruh warga Negara, bukannya tujuan bersama untuk kepentingan golongan atau partai. Kembali pada tiga (3) frase di atas; *Politik Pendidikan*, *Pendidikan Politik*, dan *Politik dalam Pendidikan*. Secara semantik, ketiga frase tersebut sangat berbeda dalam makna. Frase *Politik Pendidikan* – mengacu pada tata cara pencapaian tujuan pendidikan. Hal ini tentunya sangat tepat sebab pendidikan membutuhkan proses yang di dalamnya terdapat beberapa sistematika yang digunakan untuk mencapai tujuan umum dan khusus untuk kepentingan pendidikan *seluruh* warga negara. Frase *Pendidikan Politik* – mengacu pada bagaimana seluruh warga Negara memiliki pengetahuan tentang politika yang dapat mereka tempuh melalui pendidikan formal, informal, dan atau non-formal. Hal ini juga merupakan hal yang tepat sebab pengetahuan sangat berguna bagi *seluruh* warga Negara, termasuk pengetahuan politik. Frase *Politik dalam Pendidikan *mengacu pada independensi antara politik dan pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa politik dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda namun saling membutuhkan dalam implementasinya. Dalam frase inilah tampak aplikasi politik yang beragam dalam bentuk atau pola, motivasinya, motif atau tujuannya, serta pelakuknya. Ketika pelaku politik mengenyampingkan konsep dasar politik dan kemudian membawanya ke dalam dunia pendidikan maka tidak heran jika sistem pendidikan menjadi rusak dan berbau politik kotor atau rusak sebab telah politika yang diaplikasikan hanya semata-mata bagi kepentingan pribadi dan atau golongan.

Pertanyaan saya adalah, apakah semua Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah sanggup mempertaruhkan kehormatan jabatan strukturalnya demi terbebas dari ikatan kontrak *polibek* dan yang sejenisnya? Apakah semua Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah sanggup dengan bijak berkata ‘Saya akan melepaskan jabatan saya jika saya masih dibungkus dengan plastik *polibek* dari politisi tertentu?’ Cobalah untuk mengamati sejenak, apakah kursi *polibek* anda pantas mendapatkan pujian atau justru tetangga dan kerabat anda berkata ‘Oh, ia menduduki jabatan itu karena ia adalah anggota *Kosong Satu* atau *Kosong Dua’*. Bekerjalah sebagai seorang yang profesional dan dudukilah jabatan anada karena anda telah pantas mendapatkannya berdasarkan kinerja anda yang dinilai baik dalam bidang disiplin anda sendiri dan bukan karena andil anda dalam plastik POLIBEK. Marilah membela Negara ini dengan bekerja sesuai dengan bidang ilmu dan profesionalisme kita masing-masing. Alangkah bahagianya diri anda ketika anda menduduki suatu jabatan di luar dari plastik *polibek*. Jika anda masih menyimpan rapih semua *polibek* tersebut maka itu berarti anda sementara menyediakan ladang strategis bagi pertumbuhan tanaman ganja – tanaman yang dapat menimbulkan euforia atau rasa gembira yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir, menjadikan penggunanya bermalasan, dan otak mereka akan lamban dalam berpikir. Demikianlah sebenarnya nasib bagi mereka yang hidup dan tumbuh di atas lahan *POLIBEK*.

Pendidikan tidak semestinya dirusak oleh ragi *polibek*. Pendidikan adalah pilar atau penopang perkembangan suatu Negara dan warganya. Hargailah pendidikan sama seperti anda menghargai para pendahulu dan orang tua anda masing-masing. Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik sangat bermanfaat dalam dunia pendidikan, namun demikian, tidak sepantasnya penyelenggara atau pelaku pendidikan terlibat dalam politik praktis yang semata-mata mementingkan kepentingan pribadi atau golongan yang notabene adalah *polibek*. Berdirilah sebagai pelaku pendidikan, bukan sebagai pelaku politik praktis yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan.

Mari mencoba untuk sejenak menganalisa dua hal berikut lalu kemudian merenungkannya dengan bijak:

- Menjadi pelaku pendidikan yang terkungkung dalam POLIBEK milik politisi tertentu,
- Menjadi pelaku pendidikan yang memanfaatkan politik dan politisi untuk tujuan pendidikan nasional.

Analisa dan pilihan anda sangat menentukan nasib pendidikan bangsa Indonesia yang di dalamnya berada anak-anak bangsa yang juga adalah anak-anak anda sendiri. Apakah anda tega merusak pendidikan bangsa dan anak-anak anda secara tidak langsung dengan menerima jabatan politik sebagai sesuatu yang menggiurkan yang pada dasarnya akan membuat anda bekerja dengan tidak murni bagi pendidikan bangsa ini? Sikap demikian adalah pola pikir yang tidak memahami konsep bela Negara tetapi yang anda lakukan adalah bela pribadi dan bela partai politik.

Beberapa solusi yang dapat disimak dan patut dipertimbangkan dari situasi seperti ini adalah sebagai berikut.

- Pelaku pendidikan menolak dengan tegas politik praktis dengan kemasan POLIBEK,
- Pelaku pendidikan perlu meningkatkan dan mendayagunakan profesionalisme dengan tujuan kinerja yang lebih signifikan dan bersahaja agar terhindar dari iming-iming kiriman POLIBEK,
- Pelaku pendidikan perlu memandang diri mereka bernilai dan berharga agar tidak menjadi karyawan penjual POLIBEK,
- Pelaku pendidikan seharusnya memberikan sumbangsih jasa dalam bentuk fasilitator pendidikan politik, metode untuk sistematika implementasi sistem politik bersih, dan produk pendidikan hasil dari pemanfaatan politik pendidikan dan pendidikan politik.

Bangsa ini bergantung sepenuhnya pada pelaku pendidikan yang bekerja untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; mencerdaskan *seluruh *warga Negara Indonesia termasuk pelaku politik. Alangkah indahnya jika pelaku politik benar-benar berpendidikan dan memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial yang dapat mereka peroleh dari sistem pendidikan baik secara formal, informal, maupun non-formal.

Anda dapat melayangkan komentar anda dengan mengisi form di bawah ini.